![]() |
| Pesawat ATR IAT Tabrak Gunung Bulusaraung |
SULSEL AMANAH INDONESIA, MAKASSAR -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menabrak lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, masuk dalam kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Kategori ini menunjukkan pesawat masih berada dalam kondisi dapat dikendalikan sebelum terjadi benturan dengan medan.
Penjelasan tersebut disampaikan Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono berdasarkan temuan awal di lokasi kejadian, termasuk pola sebaran serpihan pesawat yang ditemukan oleh tim SAR gabungan.
"Kita namakan CFIT. Jadi, memang pesawat menabrak bukit atau lereng gunung, sehingga terjadi beberapa pecahan atau serpihan pesawat akibat terjadinya benturan. Jadi, memang kita mengkategorikan sebagai CFIT," paparnya kepada wartawan di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar, Kabupaten Maros, Minggu.
Pesawat Masih Terkendali, Benturan Tidak Disengaja
Soerjanto menegaskan bahwa insiden tersebut bukan peristiwa yang disengaja. Pesawat masih berada dalam kendali pilot, namun jarak yang terlalu dekat dengan lereng gunung membuat benturan tidak dapat dihindari.
"Pesawatnya itu masih bisa dikontrol oleh pilotnya, tapi menabrak, tapi bukan sengaja menabrak (lereng gunung setempat). Jadi pesawatnya masih bisa dikontrol ," tuturnya.
Benturan keras dengan medan pegunungan diduga menyebabkan badan pesawat menghantam permukaan keras, sehingga struktur pesawat pecah dan terurai menjadi serpihan-serpihan yang kini ditemukan di lokasi kejadian.
Soerjanto kembali menegaskan makna CFIT dalam konteks kecelakaan ini.
"CFIT itu mengidentifikasikan bahwa pesawatnya masih bisa dikontrol atau dikendalikan oleh pilotnya. Tapi, karena sesuatu hal, serpihan pesawat yang ditemukan ini karena menabrak bukit atau gunung," katanya lagi menjelaskan.
Meski demikian, KNKT menegaskan penyelidikan masih terus berlangsung. Hingga kini, belum ada kesimpulan terkait kemungkinan adanya kelalaian karena seluruh faktor penyebab masih dalam tahap pendalaman.
Kronologi Hilang Kontak dan Data Penumpang
Pesawat ATR 42-500 milik IAT sebelumnya dilaporkan hilang kontak di kawasan pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, saat hendak mendarat di Bandara Internasional Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Berdasarkan data manifest terbaru, terdapat 11 orang di dalam pesawat, terdiri atas delapan kru dan tiga penumpang. Kru pesawat yakni Captain Andy Dahananto, Yudha Mahardika, Captain Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita. Sementara penumpang tercatat atas nama Deden, Ferry, dan Yoga.
Tiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan sebagai analis kapal pengawas, Deden Mulyana selaku pengelola barang milik negara, serta Yoga Naufal yang bertugas sebagai operator foto udara.
Menteri KKP Sampaikan Belasungkawa
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono turut menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut.
"Dengan ini kami menyatakan prihatin. Kami terus terang sedih dan prihatin dan berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat tersebut," kata Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu malam.
Ia menambahkan bahwa KKP selama ini menjalankan tugas pengawasan udara (air surveillance) bekerja sama dengan Indonesia Air Transport sebagai operator pesawat.
SAR Temukan Satu Korban di Jurang Bulusaraung
Sementara itu, Tim SAR Gabungan menemukan satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik IAT di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Penemuan ini menjadi perkembangan terbaru di tengah upaya pencarian korban lainnya yang masih dinyatakan hilang.
Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar menyampaikan bahwa korban ditemukan pada Minggu siang di area jurang dengan medan ekstrem.
"Siang tadi telah ditemukan satu korban jenis kelamin laki-laki pada kedalaman jurang kurang lebih 200 meter. (korban) berada di sekitar serpihan pesawat. Saat ini sedang berlangsung proses evakuasi," ujar Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar di Posko Kabupaten Maros, Minggu.
Korban yang belum teridentifikasi tersebut ditemukan sekitar pukul 14.20 WITA pada koordinat 04°54' 44"S dan 119° 44' 48" S oleh tim Rescue Unit (SRU) 3. Evakuasi dilakukan melalui jalur pendakian karena kondisi medan yang sulit.
Selain jasad korban, tim juga menemukan sejumlah serpihan pesawat berupa rangka dan kursi. Lokasi mesin pesawat turut diidentifikasi melalui pengamatan visual di lapangan.
Cuaca Buruk Jadi Tantangan Operasi SAR
Selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar menjelaskan bahwa operasi pencarian dibagi ke dalam empat SRU sesuai sektor masing-masing. SRU 1 melakukan penurunan ke arah barat menggunakan tali, sementara SRU 3 berada di puncak dan sebagian personel telah menyeberang ke titik dua. SRU 4 sempat mendekati titik misi, namun tidak menemukan akses aman.
"Tim logistik juga telah bergerak menuju puncak untuk melakukan drop peralatan dan logistik guna mendukung keberlanjutan operasi,” papar Arif menambahkan.
Ia mengungkapkan bahwa cuaca buruk masih menjadi tantangan utama operasi SAR.
“Ini berdampak pada pergerakan tim, termasuk tadi sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal, ini demi keselamatan personel,” paparnya.
Basarnas menegaskan operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mengedepankan keselamatan seluruh personel serta koordinasi lintas unsur.
“Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara maksimal, profesional, dan terukur. Setiap langkah diambil berdasarkan analisis risiko di lapangan. Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar,” katanya.
Operasi SAR berada di bawah koordinasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar dan melibatkan berbagai unsur SAR Gabungan. Hingga kini, sejumlah korban masih dinyatakan hilang dan pencarian terus dilanjutkan.

