![]() |
| PSM Makassar |
Hasil imbang tanpa gol melawan Semen Padang kembali menegaskan satu realitas pahit: PSM sedang berada dalam fase sulit—bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga menyangkut identitas permainan yang kian kabur.
Tujuh Laga Tanpa Kemenangan, Tekanan Terus Menumpuk
PSM kini telah melewati tujuh pertandingan beruntun tanpa kemenangan di Super League 2025/2026. Dalam rentang tersebut, kekalahan lebih sering hadir ketimbang hasil imbang, membuat tekanan perlahan mengendap di ruang ganti tim.
Laga pekan ke-19 di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, sejatinya diharapkan menjadi titik balik. Namun skor kacamata justru memperpanjang deretan hasil negatif dan membuat posisi PSM di klasemen semakin rentan.
Tuan Rumah yang Kehilangan Kendali
Alih-alih tampil dominan, PSM justru kesulitan mengontrol jalannya pertandingan. Semen Padang, yang berstatus tim tamu, tampil lebih percaya diri, rapi dalam membangun serangan, serta unggul dalam penguasaan bola.
PSM memang sempat menciptakan beberapa peluang, tetapi masalah klasik kembali muncul: penyelesaian akhir yang tumpul. Dalam laga ketat, kegagalan memanfaatkan momen krusial menjadi harga mahal yang harus dibayar.
Trucha: Bukan Sekadar Teknis, Ini Soal Mental
Pelatih PSM Tomas Trucha menyadari situasi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Ia menekankan pentingnya refleksi dan komunikasi intens dengan para pemain.
Menurutnya, ada peluang yang seharusnya berbuah gol. Namun eksekusi akhir yang buruk menunjukkan persoalan yang lebih dalam. Bagi Trucha, masalah PSM bukan semata teknis, melainkan juga mental pemain saat berada di momen penentuan.
Statistik yang Bicara Jujur
Data pertandingan memperkuat kesan bahwa PSM sedang kehilangan arah. Penguasaan bola lebih banyak berada di kaki Semen Padang, sementara tembakan PSM tak satu pun benar-benar mengancam gawang lawan.
Statistik ini bukan sekadar angka. Ia mencerminkan problem mendasar dalam alur permainan—mulai dari transisi, distribusi bola, hingga keberanian mengambil risiko di area lawan.
Evaluasi Menyeluruh Dinilai Tak Terelakkan
Pengamat sepak bola Imran Amirullah menilai kondisi PSM tak bisa dianggap sebagai penurunan performa biasa. Rentetan hasil negatif menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh, bukan sekadar perubahan taktik sesaat.
Menurutnya, masalah bisa muncul di banyak lini—pertahanan, gelandang, hingga penyerang—bahkan melampaui aspek teknis di lapangan. Dalam situasi seperti ini, pergantian pemain saja tidak cukup tanpa pembenahan struktur dan pendekatan tim secara keseluruhan.
Papan Klasemen Menambah Beban Psikologis
Hasil imbang melawan Semen Padang membuat PSM tertahan di papan tengah bawah klasemen. Jarak dengan zona berbahaya memang belum mengkhawatirkan, tetapi cukup untuk memicu alarm jika tren negatif terus berlanjut.
PSM Makassar kini berada di persimpangan penting. Apakah fase ini akan menjadi ruang refleksi menuju kebangkitan, atau justru awal dari krisis yang lebih dalam, sangat bergantung pada respons tim—terutama saat kandang tak lagi menjadi tempat yang ramah untuk meraih kemenangan.

