Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat

Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi

SULSEL AMANAH INDONESIA, LUWU -- Aksi demonstrasi Aliansi Wija To Luwu yang berlangsung di Walenrang, Kabupaten Luwu, sejak Jumat (23/1) hingga Senin (26/1/2026), berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat di wilayah Luwu Raya. Dampak paling terasa adalah terganggunya distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji.

Aksi massa yang menuntut pemekaran Kabupaten Luwu Tengah serta pembentukan Provinsi Luwu Raya tersebut membuat arus lalu lintas di Kabupaten Luwu hingga Luwu Utara lumpuh total. Jalur utama menuju wilayah tersebut diblokir selama beberapa hari.

Para demonstran menutup Jalan Trans Sulawesi menggunakan pohon tumbang, truk, hingga alat berat ekskavator. Selain itu, akses di depan Jembatan Baliase, yang menjadi perbatasan Kabupaten Luwu dan Luwu Utara, dipasangi pondasi batu dan semen, sehingga kendaraan sama sekali tidak dapat melintas.

Pemblokiran ini mengakibatkan mobil tangki pengangkut BBM dan elpiji tidak dapat masuk ke wilayah Luwu Raya. Distribusi bahan bakar ke sejumlah SPBU pun terhenti sejak akhir pekan lalu.

Aidil, petugas SPBU Pertamina 74.92903 di Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, menyebut pasokan BBM terakhir diterima pada Jumat (23/1) pagi, sebelum aksi demonstrasi dimulai.

“Sejak Sabtu sampai hari ini belum ada pasokan lagi. Kami harap aksi segera diakhiri agar kendaraan pengangkut bisa lewat, karena masyarakat sudah mulai kesulitan mendapatkan BBM dan gas,” ujarnya.

Terhentinya pasokan tersebut memicu lonjakan harga BBM di tingkat pengecer. Dewi Ratna Sari, warga Luwu Utara, mengatakan harga bensin eceran yang sebelumnya Rp13.000 per botol berisi satu liter kini melonjak drastis.

“Saya mendukung aspirasi untuk pemekaran Luwu Raya, tapi kasihan masyarakat kecil. Banyak oknum penjual eceran yang memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga BBM dan elpiji, padahal stok mereka sebenarnya sudah ada sebelum demo,” tutur Dewi.

Sementara itu, Mariati, salah satu penjual bensin eceran di Luwu Utara, mengaku terpaksa menaikkan harga karena kesulitan memperoleh pasokan baru.

“Saya jual Rp25.000 per botol karena ambilnya juga mahal. Stok susah sekali didapat, apalagi mobil tangki tidak bisa lewat,” kata Mariati.

Hingga Senin (26/1/2026), aparat kepolisian bersama pemerintah daerah masih melakukan upaya mediasi dengan massa aksi agar jalur utama segera dibuka dan distribusi logistik, termasuk BBM dan elpiji, dapat kembali normal di wilayah Luwu Raya.



Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat
  • Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat
  • Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat
  • Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat
  • Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat
  • Demo Pemekaran Luwu Raya Lumpuhkan Trans Sulawesi, Pasokan BBM Tersendat
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan