![]() |
| Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman meletakkan batu pertama perbaikan jaringan irigasi di salah satu daerah di Sulsel |
SULSEL AMANAH INDONESIA, MAKASSAR -- Fenomena El Nino yang diprediksi membuat musim kemarau lebih kering dan panjang menjadi tantangan bagi sektor pertanian Sulawesi Selatan. Pemerintah Provinsi Sulsel memperkuat infrastruktur irigasi untuk menjaga pasokan air ke lahan persawahan dan mempertahankan produksi pangan.
BMKG menyebut El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebagai salah satu daerah penghasil beras, Sulsel perlu mengantisipasi dampak kekurangan air terhadap lahan pertanian. Sejumlah wilayah seperti Soppeng, Wajo, Sidenreng Rappang (Sidrap), Barru hingga Sinjai menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian karena memiliki areal persawahan produktif.
Sekretaris Daerah Sulsel Jufri Rahman mengatakan dampak El Nino diperkirakan paling terasa di wilayah yang menjadi sentra pertanian. Gangguan pasokan air berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Pemprov Sulsel Siapkan Rp780 Miliar untuk Irigasi
Salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Sulsel adalah mempercepat pembangunan dan penanganan jaringan irigasi melalui proyek tahun jamak dengan total anggaran mencapai Rp780 miliar.
Anggaran tersebut diarahkan untuk pembangunan jaringan irigasi baru yang ditargetkan dapat mengairi sekitar 54.000 hektare sawah di berbagai kabupaten.
Sejumlah daerah irigasi yang masuk dalam program tersebut antara lain Unyi, Lanca, Jaling, Salomekko dan Leworeng di Kabupaten Soppeng, serta Cilellang dan Cenrana di Kabupaten Wajo.
Pengerjaan sejumlah jaringan irigasi bahkan telah dimulai sejak April 2026, sebelum BMKG mengeluarkan peringatan mengenai kondisi El Nino yang semakin menguat.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman sebelumnya juga meletakkan batu pertama rehabilitasi daerah irigasi paket 2 dengan anggaran Rp77 miliar. Proyek tersebut ditujukan untuk mengembalikan fungsi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan lebih dari 50 persen.
Sementara paket 1 mencakup Maros, Gowa, Bulukumba dan Sinjai dengan anggaran sekitar Rp93 miliar.
Untuk wilayah Luwu Raya, paket 4 mendapatkan anggaran Rp120 miliar untuk peningkatan jaringan irigasi yang mencakup sekitar 13 ribu hektare. Wilayah tersebut meliputi Luwu Timur, Luwu, Luwu Utara, Tana Toraja hingga Enrekang.
Khusus Luwu Utara, program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 6.400 hektare lahan persawahan agar dapat terintegrasi dengan sistem irigasi yang lebih baik setelah proyek selesai.
Program serupa juga menyasar tiga titik irigasi di Sidrap, yakni Bendung Torere, daerah irigasi Bilokka dan daerah irigasi Alekaraja di Kecamatan Watang Pulu.
Pemprov Sulsel memastikan pengerjaan proyek irigasi akan terus diawasi agar berjalan sesuai jadwal dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya petani.
“Kami berharap seluruh proses pengerjaan dapat berjalan sesuai rencana dan hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.
Sidrap Tetap Produktif di Tengah El Nino
Di tengah kekhawatiran terhadap dampak El Nino, Kabupaten Sidenreng Rappang justru menunjukkan ketahanan produksi pertanian.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan dampak El Nino memang dirasakan, tetapi sejauh ini tidak memberikan pengaruh besar terhadap hasil panen di daerah tersebut.
"Dampak El Nino memang ada, tetapi tidak berpengaruh besar pada hasil panen di Sidrap," kata Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif.
Sidrap memiliki luas wilayah 188.325 hektare, dengan sekitar 52.227 hektare di antaranya merupakan lahan persawahan produktif. Areal tersebut terdiri atas sekitar 34 ribu hektare sawah irigasi dan 22 ribu hektare sawah tadah hujan.
Secara umum, Sidrap mampu menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) sekitar 434.000 hingga 663.000 ton per tahun. Produktivitas rata-rata berada di kisaran 10–12 ton gabah per hektare, baik pada kondisi cuaca normal maupun kering.
Salah satu contohnya terdapat di Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae. Petani di wilayah tersebut menerapkan sistem IP300 atau tiga kali musim tanam dalam setahun pada lahan seluas 52 hektare.
Hasil panennya mencapai sekitar 10–12,3 ton gabah per hektare meski berada dalam kondisi kekeringan.
Produktivitas juga terlihat di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa. Petani setempat mampu menghasilkan sekitar 10 ton gabah per hektare dengan omzet mencapai Rp83 juta dalam satu kali panen.
Sementara Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue, memiliki areal persawahan seluas 481 hektare dengan produktivitas rata-rata sekitar 10 ton gabah per hektare.
Pompanisasi Jadi Salah Satu Strategi Hadapi Kekeringan
Ketahanan produksi pertanian Sidrap tidak terlepas dari upaya menjaga ketersediaan air bagi lahan persawahan.
Melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP), pemerintah daerah mengoptimalkan sejumlah strategi, termasuk bantuan pompanisasi melalui program listrik masuk desa.
Langkah tersebut menjadi penting karena pengelolaan air merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga produktivitas sawah ketika curah hujan menurun.
Pemprov Sulsel juga memperkuat dukungan melalui penanganan tiga titik jaringan irigasi di Sidrap, yakni Bendung Torere, Bilokka dan Alekaraja di Kecamatan Watang Pulu.
Pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan air ke lahan pertanian sekaligus menjaga Sidrap sebagai salah satu lumbung pangan Sulsel.
Irigasi Jadi Kunci Menjaga Produksi Pangan
Ancaman El Nino membuat pengelolaan air menjadi semakin penting bagi Sulsel. Selain pembangunan jaringan irigasi, pemerintah juga perlu memastikan infrastruktur yang telah tersedia dapat berfungsi optimal.
Langkah tersebut sejalan dengan rekomendasi BMKG yang mendorong sektor pertanian melakukan percepatan waktu tanam, menggunakan varietas berumur genjah serta memprioritaskan distribusi air pada fase kritis pertumbuhan tanaman saat menghadapi periode defisit air.
Dengan kombinasi pembangunan irigasi, pompanisasi dan pengaturan pola tanam, Sulsel berupaya menjaga lahan pertanian tetap produktif di tengah ancaman kemarau yang lebih kering.
Bagi daerah seperti Sidrap yang menjadi salah satu penyangga produksi pangan, keberlanjutan pasokan air menjadi faktor penting untuk mempertahankan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan Sulawesi Selatan.

